Fitur Layout Telematika

1. Perkembangan Jaringan Computer Sebagai Sarana Yang Digunakan Dalam Proses Telematika

Perkembangan jaringan komputer sebagai sarana yang digunakan dalam proses telematika adalah:
Ditahun 1950-an ketika jenis komputer mulai membesar sampai terciptanya super komputer, maka sebuah komputer mesti melayani beberapa terminal. Untuk itu ditemukan konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang dikenal dengan nama  TSS (Time Sharing System), maka untuk pertama kali bentuk jaringan (network) komputer diaplikasikan. Pada sistem TSS beberapa terminal terhubung secara seri ke sebuah host komputer. Dalam proses TSS mulai nampak perpaduan teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi yang pada awalnya berkembang sendiri-sendiri.

Memasuki tahun 1970-an, setelah beban pekerjaan bertambah banyak dan harga perangkat komputer besar mulai terasa sangat mahal, maka mulailah digunakan konsep proses distribusi (Distributed Processing). Seperti pada Gambar 2, dalam proses ini beberapa host komputer mengerjakan sebuah pekerjaan besar secara paralel untuk melayani beberapa terminal yang tersambung secara seri disetiap host komputer. Dalam proses distribusi sudah mutlak diperlukan perpaduan yang mendalam antara teknologi komputer dan telekomunikasi, karena selain proses yang harus didistribusikan, semua host komputer wajib melayani terminal-terminalnya dalam satu perintah dari komputer pusat.

Selanjutnya ketika harga-harga komputer kecil sudah mulai menurun dan konsep proses distribusi sudah matang, maka penggunaan komputer dan jaringannya sudah mulai beragam dari mulai menangani proses bersama maupun komunikasi antar komputer (Peer to Peer System) saja tanpa melalui komputer pusat. Untuk itu mulailah berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenal dengan sebutan LAN. Demikian pula ketika Internet mulai diperkenalkan, maka sebagian besar LAN yang berdiri sendiri mulai berhubungan dan terbentuklah jaringan raksasa WAN.

2. Perkembangan Teknologi Wireless Yang Meliputi Hardware, Sistem Operasi Dan Program Aplikasi Yang Digunakan Pada Perangkat Wireless

Pada tahun 1997 IEEE membuat suatu spesifikasi/standar WLAN yang pertama dengan kode IEEE 802.11 (bekerja pada frekuensi 2.4 GHz). Standar ini diciptakan oleh Komite IEEE (kode IEEE 802) yang menangani standardisasi jaringan LAN/MAN. Hanya sayang kecepatan komunikasi datanya baru 2 Mbps. Oleh karena itu, pada tahun 1999 muncul spesifikasi baru bernama 802.11b dimana tipe ini bisa mencapai data rate 11 Mbps. Namun, ada satu kelemahan dari tipe ini, yaitu banyak alat-alat lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi ini 2.4 GHz (misal: cordless phone, microwave oven, dll.). Jadi, sangat mungkin terjadi Interferensi yang akan menggangu performa WLAN tipe ini.

Perubahan dan spesifikasi baru yang lebih mumpuni pun bermunculan. Misalnya, tak lama setelah tipe 802.11b, IEEE membuat spek baru 802.11a yang menggunakan frekuensi 5 GHz dan data rate mencapai 54 Mbps. Kemudian pada tahun 2002, muncul 802.11g yang menggabungkan kelebihan pada 802.11b dan 802.11a.

Tipe ini bekerja pada frekuensi 2,4Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54Mbps. Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, artinya pemakaiannya dapat saling dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan LAN card 802.11g dapat memanfaatkan access point 802.11b, dan sebaliknya.Pada tahun 2006, 802.11n dikembangkan dengan menggabungkan teknologi 802.11b dan 802.11g. Teknologi ini dikenal dengan istilah MIMO (Multiple Input Multiple Output) merupakan teknologi Wi-Fi terbaru. MIMO dibuat berdasarkan spesifikasi Pre-802.11n. Kata ”Pre-” menyatakan “Prestandard versions of 802.11n”. Lebar frekuensi tipe 802.11n ini 2.4 GHz dengan data rate mencapai 100Mbps. Daya tembus MIMO terhadap penghalang lebih baik, selain itu jangkauannya lebih luas sehingga Anda dapat menempatkan laptop atau klien Wi-Fi sesuka hati.

3. Fitur layout telematika

Pada dasarnya, fitur layout telematika terbagi 6 macam fitur layanan antara lain :

1. Head Up Display System
  Head Up Display (HUD) merupakan sebuah tampilan transparan yang menampilkan data tanpa mengharuskan penggunanya untuk melihat ke arah yang lain dari sudut pandang biasanya. Asal nama dari alat ini yaitu pengguna dapat melihat informasi dengan kepala yang terangkat (head up) dan melihat ke arah depan daripada melihat ke arah bawah bagian instrumen.




2. Tangible User Interface
    Tangible User Interface, yang disingkat TUI, adalah antarmuka dimana seseorang dapat berinteraksi dengan informasi digital lewat lingkungan fisik. Nama inisial Graspable User Interface, sudah tidak lagi digunakan. Salah satu perintis TUI ialah Hiroshi Ishii, seorang profesor di Laboratorium Media MIT yang memimpin Tangible Media Group. Pandangan istimewanya untuk tangible UI disebut tangible bits, yaitu memberikan bentuk fisik kepada informasi digital sehingga membuat bit dapat dimanipulasi dan diamati secara langsung.

3. Computer Vision   
 Computer Vision (komputer visi) merupakan ilmu pengetahuan dan teknologi dari mesin yang melihat. Dalam aturan pengetahuan, komputer visi berhubungan dengan teori yang digunakan untuk membangun sistem kecerdasan buatan yang membutuhkan informasi dari citra (gambar). Data citranya dapat dalam berbagai bentuk, misalnya urutan video, pandangan deri beberapa kamera, data multi dimensi yang di dapat dari hasil pemindaian medis.

4. Browsing Audio Data
    Browsing Audio Data merupakan metode browsing jaringan yang digunakan untuk browsing video / audio data yang ditangkap oleh sebuah IP kamera.

5. Speech Recognition
   Dikenal juga dengan pengenal suara otomatis (automatic speech recognition) atau pengenal suara komputer (computer speech recognition). Merupakan salah satu fitur antarmuka telematika yang merubah suara menjadi tulisan. Istilah ‘voice recognition’ terkadang digunakan untuk menunjuk ke speech recognition dimana sistem pengenal dilatih untuk menjadi pembicara istimewa, seperti pada kasus perangkat lunak untuk komputer pribadi, oleh karena itu disana terdapat aspek dari pengenal pembicara, dimana digunakan untuk mengenali siapa orang yang berbicara, untuk mengenali lebih baik apa yang orang itu bicarakan. Speech recognition merupakan istilah masukan yang berarti dapat mengartikan pembicaraan siapa saja.

6. Speech Synthesis
   Speech synthesis merupakan hasil kecerdasan buatan dari pembicaraan manusia. Komputer yang digunakan untuk tujuan ini disebut speech syhthesizer dan dapat diterapkan pada perangkat lunak dan perangkat keras. Sebuah sistem text to speech (TTS) merubah bahasa normal menjadi pembicaraan.


Gambar Fitur layout telematika :


Sumber:
Selengkapnya ...

Telematika

1. Pengertian Telematika

Istilah telematika merupakan adopsi dari bahasa asing. Kata telematika berasal dari kata dalam bahasa Prancis, yaitu telematique. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam bukunya yang berjudul L’informatisation de la Societe;. Telematika menunjuk pada hakikat cyberspace sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari perkembangan dan konvergensi telekominikasi, media, dan informatika.
Dalam Pengantar pada mata kuliah Hukum Telematika Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dinyatakan bahwa istilah telematika merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media, dan informatika yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi telematika kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan digital atau the net.

Menurut Kerangka Kebijakan Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia, disebutkan bahwa teknologi telematika merupakan singkatan dari teknologi komunikasi, media, dan onformatika. Senada dengan pendapat pemerintah, telematika diartikan sebagai singkatan dari tele = telekomunikasi, ma = multimedia, dan tika = informatika.
Mengacu kepada penggunaan dikalangan masyarakat telematika Indonesia (MASTEL), istilah telematika berarti perpaduan atau pembauran (konvergensi) antara teknologi informasi (teknologi komputer), teknologi telekomunikasi, termasuk siaran radio maupun televisi dan multimedia.

Dalam perkembangannya, teknologi telematika ini telah menggunakan kecepatan dan jangkauan transmisi energi elektromagnetik, sehingga sejumlah besar informasi dapat ditransmisikan dengan jangkauan, menurut keperluan, sampai seluruh dunia, bahkan ke seluruh angkasa, serta terlaksana dalam sekejap. Kecepatan transmisi elektromagnetik adalah (hampir) 300.000 km/detik, sehingga langsung dikirim begitu sampai, memungkinkan orang berdialog langsung, atau komunikasi interaktif.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat disarikan pemahaman tentang telematika sebagai berikut.
  1. Telematika adalah sarana komunikasi jarak jauh melalui media elektromagnetik.
  2. Kemampuannya adalah mentransmisikan sejumlah besar informasi dalam sekejap, dengan jangkauan seluruh dunia, dan dalam berbagai cara, yaitu dengan perantaan suara (telepon, musik), huruf, gambar dan data atau kombinasi-kombinasinya. Teknologi digital memungkinkan hal tersebut terjadi.
  3. Jasa telematika ada yang diselenggarakan untuk umum (online, internet), dan ada pula untuk keperluan kelompok tertentu atau dinas khusus (intranet).

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa telematika merupakan teknologi komunikasi jarak jauh, yang menyampaikan informasi satu arah, maupun timbal balik, dengan sistem digital.

2. Media Komunikasi Telematika

Media yang digunakan dalam telematika yaitu hardware atau perangkat keras yang berguna sebagai pengirim dan penerima data, satelit digunakan sebagai sarana telematika kegunaan Satelit komunikasi menerima sinyal yang dipancarkan ke arahnya dari Bumi, dan mengirimkannya ke tempat lain, Komputer, Telephone, Handphone, Smartphone, Televisi, Radio, jaringan Internet, Global Positioning System (GPS).

3. Perkembangan Telematika Sebelum dan Sesudah  Internet Muncul

Perkembangan Telematika di Indonesia sebelum internet muncul


  • Periode Rintisan (berlangsung pada akhir tahun 1970an – akhir tahun 1980an).
Pada periode rintisan ini penggunaan telematika sangat terbatas. Pada periode ini, masa dimana beberapa orang Indonesia belajar menggunakan telematika atau minimal mengetahuinya. Tahun 1980-an teleconference terjadwal hampir sebulan sekali di TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang menyajikan dialog interaktif antara Presiden Suharto di Jakarta dengan para petani di luar jakarta, bahkan di luar pulau Jawa.
  • Periode Pengenalan (berlangsung tahun 1980an).
Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar negeri marak pada awal tahun 1990. hal ini juga merupakan efek kreativitas anak muda ketika itu, setelah dipinggirkan dari panggung politik, yang kemudian disediakan wadah baru dan dikenal sebagai Karang Taruna. Pada sisi lain, milis yang mulai digagas sejak tahun 1980-an, terus berkembang.
Perkembangan Telematika diIndonesia setelah internet muncul

  • Periode Pengenalan Telematika.
Internet masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dan milis adalah salah satu bagian dari sebuah web. Penggunanya tidak terbatas pada kalangan akademisi, akan tetapi sampai ke meja kantor. ISP (Internet Service Provider) pertama di Indonesia adalah IPTEKnet, dan dalam tahun yang sama, beroperasi ISP komersil pertama, yaitu INDOnet. Dua tahun keterbukaan informasi ini, salahsatu dampaknya adalah mendorong kesadaran politik dan usaha dagang. Hal ini juga didukung dengan hadirnya televise swasta nasional, seperti RCTI (Rajawali Citra Televisi) dan SCTV (Surya Citra Televisi) pada tahun 1995-1996. Teknologi telematika, seperti computer, internet, pager, handphone, teleconference, siaran radio dan televise internasional – tv kabel Indonesia, mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia.
  • Periode Aplikasi.
Pada periode ini, teknologi mobile phone begitu cepat pertumbuhannya. Bukan hanya dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, fungsi yang ditawarkan terbilang canggih. Muatannya antara 1 Gigabyte, dapat berkoneksi dengan internet juga stasiun televisi, dan teleconference melalui 3G. Teknologi computer demikian, kini hadir dengan skala tera (1000 Gigabyte), multi processor, multislot memory, dan jaringan internet berfasilitas wireless access point. Bahkan, pada café dan kampus tertentu, internet dapat diakses dengan mudah, dan gratis.

4. Harapan Saya Kedepannya Dengan Adanya Telematika Di Indonesia

Menurut saya, telematika di Indonesia sudah berkembang sangat pesat. Hal tersebut dapat dikatakan karena dengan adanya puluhan channel televisi, handphone yang dimiliki hampir setiap orang, berbagai situs internet yang memberikan informasi, dan situs internet yang menghubungkan komunikasi antar manusia. 
Saya mengharapkan telematika di Indonesia dapat berkembang lagi seiring berkembangnya telematika di dunia. Dan harapan untuk masyarakat Indonesia, agar menggunakan telematika dengan baik dan bijak.

Sumber:


Selengkapnya ...

Berbahasa Sesuai dengan Ranah Pemakaiannya

     
Bahasa-bahasa daerah semakin merosot peran dan fungsinya. Bahasa daerah cenderung menghilang eksistensinya. Sementara itu, bahasa inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya, menjadi semakin kuat perannya seiring perjalanan globalisasi. Bahasa Indonesia kini juga berkembang pesat, hampir semua warga masyarakat Indonesia secara merata menggunakannya.
Bahasa-bahasa daerah sesungguhnya adalah tiang-tiang penopang kebudayaan Indonesia. Sebagai tiang penopang, peran dan fungsinya jelas amat mendasar. Kalau tiang itu keropos, jika bahasa-bahasa daerah itu rapuh, akan runtuh pula bangunan kebudayaan yang ditopangnya.
Adapun sebab-sebab dari kematian kreativitas berbahasa , baik yang sifatnya generatif (generative creativity) maupun inovatif (innovative creativity), alasan-alasan hancurnya kultur kreativogenik, memang ditandai ada sejumlah hal. Di antaranya dapat disebutkan:
1.    Dominasi format kakuasaan dan kultur sosial-politik yang tidak memungkinkan perkembangan,
2.    Fungsi dan peran bahasa daerah yang lama dihilangkan fungsinya,
3.    Potensi-potensi bahasa daerah yang tidak pernah dibangkitkan.
Berkenaan dengan sebab pertama, kendatipun bahasa daerah itu eksistensinya memiliki kekuatan hukum kuat lantaran tercantum dalam undang-undang, tetapi kebijakan politik yang terlampau sentralistik, kebijakan penyeragaman bahasa dengan dalih persatuan dan kesatuan yang terlampau berlibihan, tidak cukup membaeri tempat kepada bahasa-bahasa daerah untuk hidup dan berkembang secara wajar.
Bertautan dengan sebab kedua, yakni peran dan fungsi bahasa-bahasa daerah yang dihilangkan fungsinya, dapat dijelaskan bahwa dominasi kekuatan bahasa nasional yang selama ini terjadi, kenyataan yang tidak cukup memberikan tempat untuk berkembang wajar bagi bahasa-bahasa daerah, terbukti telah menimbulkan letupan-letupan kedaerahan dalam setiap praktik bertutur sapa. Banyak munculnya leksikon daerah, mencuatnya struktur bahasa lokal yang sering tidak dilakukan secara intensional di dalam aneka pertuturan, merupakan akibat dari hilangnya fungsi bahasa-bahasa daerah yang terlampau lama ini.
Lalu, bertalian dengan sebab ketiga, sesungguhnya banyak potensi kebahasadaerahan yang dapat disingkap dan dibangkitkan, untuk kemudian dimekarkan secara optimal. Potensi-potensi bahasa daerah bernuansa ikonis, berciri onomatopis, menjadi kekayaan melimpah ruah jika benar-benar dibangkitkan dan dimanfaatkan. Sebab-sebab itulah yang sesungguhnya menyebabkan keropos dan rapuhnya bahasa-bahasa daerah, hingga mereka tidak mampu lagi hidup berkembang menopang bangunan kebudayaan. Bagaimana bahasa-bahasa daerah tersebut bisa dihidupkan kembali lalu dikembangkan?
Pertama-tama, bahasa daerah yang kini masih hidup dan cukup berkembang baik, seharusnya tetap digunakan sebagai sarana komunikasi lokal di antara sesama warga pemakai bahasa daerah itu. Dikuasainya secara merata bahasa nasional, bahasa negara, oleh segenap warga masyarakat, tidak harus mematikan bahasa-bahasa asing sebagai dampak yang tidak terlelakkan dari proses globalisasi dan mondalisasi, seharusnya tidak menyingkirkan bahasa-bahasa daerah yang masih ada itu harus dipakai sesuai dengan peran dan fungsinya.
Maka singkatnya bahasa-bahasa yang ada dalam masyarakat, selayaknya dibiarkan hidup dan berkembang sesuai dengan lingkup dan ranahnya. Bahasa yang satu tidak perlu mematikan bahasa lainnya. Dalam kerangka pemikiran masyarakat diglosik, maka biarkan saja bahasa yang harus menempati peran dan fungsi tinggi itu berada pada tempatnya yang tinggi. Biarkan pula bahasa-bahasa yang harus menempati peran dan fungsi rendah pada tempatnya yang rendah. Bahasa Indonesia dalam masyarakat kita memiliki kedudukan yang tinggi, sedangkan bahasa-bahasa daerah memang harus dibiarkan tetap hidup dan menempati posisi yang rendah.
Kedua, biarkanlah bahasa-bahasa daerah tetap digunakan didalam ranah yang bertali-temali dengan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan lokal, dan dalam ranah-ranah keagamaan. Upacara-upacara adat, sesajian, dan ceramah keagamaan, yang selama ini berjalan baik dilakukan dengan memakai bahasa daerah sesuai dengan keadaan dan kearifan lokalnya, biarkan saja agar bahasa itu terus hidup dan berkembang. Tidak perrlu dipaksakan untuk diganti dengan bahasa-bahasa lain, kendatipun dengan dalih dan tujuan yang bermacam-macam, bahkan dengan tujuan yang terkesan luhur sekalipun.
Ketiga, bahasa daerah sepantasnya tetap digunakan dalam ranah kekeluargaan. Penuturan sesama anggota keluarga berikut dengan kerabat dekatnya sepantasnya dilakukan dengan bahasa daerah , tentu saja mempertahankan bahasa daerah di lingkungan keluarga menjadi senjata terakhir  dalam mempertahankan bahasa daerah.

Sumber:
Rahardi, R. Kunjana. 2005. Dimensi-dimensi Kebahasaan. Penerbit Erlangga:Jakarta.

Tugas Softskill Bahasa Indonesia ke-4
Intan Pratiwi
13110570

Selengkapnya ...

Tugas Softskill 3

1.      Mengapa fungsi komunikasi bahasa disebut fungsi dasar? Mengapa pula disebut fungsi utama?
Jawab :
 Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa system lambing bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambing dengan objek atau konsep yang diwakili. Kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudia dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.
 Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi (fungsi informatif). Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekedar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi :
  • Untuk tujuan praktis : Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
  • Untuk tujuan artistik : Manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
  • Sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
  • Untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang Sejarah manusia selama kebudayaan dan adat istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).

2.      Sebutkan tiga contoh alat komunikasi yang bukan bahasa, dan jelaskan fungsinya!
Jawab :
 Contoh alat komunikasi selain bahasa yaitu berupa : Gerak badaniyah, alat bunyi-bunyian, kentongan, lukisan, gambar, dan sebagainya.
 Contohnya :
·         Bunyi Tong-tong memberi tanda bahaya.
·         Adanya asap menunjukkan bahaya kebakaran.
·         Alarm untuk tanda segera berkumpul
·         Bedug untuk tanda segera melakukan sholat
·         Telepon genggam untuk memanggil orang pada jarak jauh
·         Simbol tanda “stop” untuk pengguna jalan
·         Simbol laki-laki dan perempuan bagi pengguna toilet
 Kesimpulan : Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan Negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

3.      Bahasa Indonesia mempunyai empat jenis definisi, yaitu definisi nominal, formal, operasional, dan luas. Jelaskan ke 4 jenis definisi tersebut dan tuangkan jawabannya dalam sebuah teks dengan topik Teknologi Informasi atau yang terkait dengan bidang studi kalian. Tulisan dibuat secara singkat dan jelas!
Jawab :
a.         Definisi Nominal : Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definisi pada jenis definisi ini ada tiga macam yaitu :
·         Sinonim atau padanan, contohnya : Manusia ialah orang, analisis ialah pengamatan.
·         Terjemahan dari bahasa lain, contohnya : Kinerja ialah Performance, Pengembang ialah Developer.
·         Asal usul sebuah kata, contohnya : Psikologi berasal dari kata psyche berarti jiwa, dan logos berarti ilmu, psikologi adalah ilmu jiwa.
b.         Definisi Formal : Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur. Struktur definisi ini berupa kelas, genus, dan pembeda (differensiasi). Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam defiens. Struktur formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendum, dilanjutkan dengan menyebutkan genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda. Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain.
 Contoh :
 Manusia adalah makhluk yang berakal budi
 Hewan adalah makhluk yang hidup berdasarkan naluri dan insting
 Mahasiswa adalah Pelajar di Perguruan Tinggi
c.       Definisi Operasional : Definisi Operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian. Oleh Karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu. Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang melakukan pekerjaan.
Contoh :
-          Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pengaruh indeks prestasi kumulatif terhadap kecerdasan Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Angkatan 2010.
-          Prestasi Mahasiswa adalah indeks prestasi kumulatif yang diperoleh sejak awal kuliah sampai akhir perkuliahan
d.      Definisi Luas : Definisi luas adalah Batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu paragraf. Definisi ini hanya berisi suatu gagasan yang terdifinisikan.
Contoh :
Globalisasi bisnis adalah usaha lebih banyak melampaui batas-batas Negara untuk mendapatkan uang, barang, dan konsumen. Globalisasi ini dilakukan dengan menjalin kerja sama antar produk, antar pengusaha, dan antarnegara. Misalnya : Imbalan beli , patungan, murni mengeskpor produk.
4.      Bacalah surat kabar dan majalah. Cari dan temukan paragraf argumentasi yang deduktif dan induktif!
Jawab :
·      Deduktif
Kasus kecelakaan pada industry garmen psling memilukan sebelumnya adalh kebakaran yang melanda pabrik garmen di pinggiran Dhaka pada November 2012 yang menewaskan 112 pekerja. (Warta Kota, 26/04/2013)
·      Induktif
Sementara itu, perwakilan LSM Jabar Sehat, Sarah mengatakan, tren seks bebas yang mulai merasuki anak muda sekarang merupakan peringkat pertama dalam penyebaran HIV di kota-kota besar, tak terkecuali Indonesia. (Radar Depok, 2/05/2013)
5.      Cari dan temukan paragraph atau wacana campuran : Deskripsi, Narasi, Argumentasi, baik yang deduktif maupun yang induktif!
Jawab :
·         Wacana Paragraf Deskripsi
Hunian Semi Minimalis di Bekasi Green City
Bekasi Green City berdiri di atas lahan seluas 150 hektar(ha). Di atas lahan ini akan dibangun 10.000 – 12.000 unit hunian. Ada sua tipe yang ditawarkan yaitu tipe 36/60 dan 36/72.
Sepesifikasi bangunan di perumahan ini meliputi lantai keramik, dinding palstik dan dicat, rangka atap baja ringan. Hunian siap huni ini memiliki kamar tidur dan dilengkapi pagar pembatas.
Sejak dibangun tahun 2011, perumahan ini telah terjual 1.200 unit hunian. Dari total unit yang terjual ini, sekitar 60 persen sudah dihuni. Fasilitas yang disiapkan pengembang antara lain sarana bermain dan sarana ibadah.
Perumahan Bekasi Green City ini bisa diakses dari terminal Bekasi dengan angkutan 09D. dengan seklai naik angkutan, penghuni bisa sampai stasiun kereta api Bekasi. Selain itu, perumahan ini juga tidak terlalu jauh dari Marunda Center.

·         Wacana Paragraf Narasi
Joongki, Teman baikku
Aku memiliki 1 teman baik, kami sangat dekat sampai banyak orang yang iri padaku, dia Song Joongki. Aku juga heran kenapa dia mau berteman denganku? Sepanjang hari dia hanya mengikutiku. Padahal dia sangat tampan dan  populer diantara para gadis di kampus. Hampir setiap sudut kampus, saat para gadis bertemu dan menyapa bahkan mencoba tebar pesona padanya, tapi ia hanya menyimpulkan senyum sederhana melewati mereka. Meskipun begitu, mereka sudah hampir meleleh seperti es krim yang dipaparkan matahari. Itulah mengapa banyak yang iri padaku.

·         Wacana Paragraf Argumentasi
Jus Kulit Manggis
Dari sekian banyak kandungan senyawa dan unsur penting dalam keseluruhan buah manggis baik buah, isi, dan kulitnya memiliki manfaat untuk kesehatan yang luar biasa. Kekuatan super antioksidan dalam kulit manggis memiliki kadar paling tinggi diantara buah lainnya. Senyawa ini menjadi pelindung sel pada proses oksidasi, penuaan, atau perusakan sel oleh radikal bebas. Sangat baik untuk anti-lelah, anti-aging, anti-inflamasi serta menambah stamina dan vitalitas.

Mengonsumsi jus kulit manggis dalam dosis yang tepat dapat memeberikan kesehatan yang sempurna. Mencegah macam-macam penyakit yang dapat menyerang.
Selengkapnya ...

Daftar Pustaka dan Catatan Kaki

A. Daftar Pustaka

(Ruslijanto,2000:69) Daftar Pustaka adalah daftar segala sumber bahan karangan yang telah digunakan dalam karangan ilmiah.

A.1. Unsur-unsur Daftar Pustaka

(Ruslijanto,2000:71) Daftar Pustaka yang lengkap mengandung tiga unsur utama yaitu: penulis, judul, fakta-fakta penerbitan.

1. Penulis

Penulis mencakup penulis pendamping, editor, badan/lembaga resmi.

Nama penulis terdiri atas 3 bagian, yaitu:
- nama sendiri (given name).
- nama tengah (middle name).
- nama keluarga (surname).

Cara penulisannya dalam daftar pustaka adalah dengan menyebutkan nama keluarga terlebih dahulu.
Contoh: Lester W. Burket
                 Penulisannya dalam Daftar Pustaka : Burket L.W.

Nama Penulis dituliskan tanpa gelar kesarjanaan ataupun gelar administratif. Untuk nama penulis Indonesia agak sulit, tetapi biasanya dimulai dengan nama akhir.
Contoh: Teuku Jacob ditulis Jacob T.
                 Anwar Siregar ditulis Siregar A.
                 Kamaruddin Panggabean ditulis Panggabean K. 

Penulis wanita yang telah menikah:
Wanita Indonesia biasanya memakai nama suaminya di belakang namanya.
Contoh: Toeti Herati Noerhadi ditulis Noerhadi TH.
                 Sri Subekti Winanto ditulis Winanto S.S.

2. Judul

Judul mencakup judul beserta anak judul jika ada.

3. Fakta-fakta Penerbitan

Fakta-fakta penerbitan mencakup: tempat (kota) di mana buku tersebut diterbitkan, nama penerbit, tahun penerbitan.
Tempat penerbitan (kota) Ditulis hanya satu kota tempat buku tersebut diterbitkan.
Nama Penerbit dituliskan tepat menurut gaya yang dipakai penerbit.
Contoh: WB. Saunders Co.
                  JB. Lippincott Co.

A.2. Penyusunan dan cara penulisan daftar pustaka

Penyusunan dan cara penulisan daftar pustaka bergantung pada cara penunjukkannya di dalam naskah.

Ada tiga cara penulisan:

1. Cara nama dan tahun (Name and Year System)

Dikenal 2 sistem yaitu sistem Vancouver dan sistem Harvard. Daftar kepustakaan disusun secara abjad berdasarkan nama kahir penulis. Penunjukannya dalam naskah dengan mencantumkan tahun penerbitan di antara tanda kurung mengikuti nama penulis, atau dengan mencantumkan nama penulis dan tahun penerbitan di antara tanda kurung pada akhir kalimat.
Contoh: Pauling (1979) melaporkan manfaat vit. C dosis tinggi
                 atau
                 Vitamin C dosis tinggi dilaporkan bermanfaat menghambat pertumbuhan sel tumor (Pauling,1979)
Apabila ada 2 penulis, keduanya harus dicantumkan dalam naskah.
Contoh: Wood (1986), melaporkan ............, seharusnya Wood dan
                 Goaz (1986) melaporkan ............(2 penulis)
Apabila ada 3 penulis atau lebih, maka dalam naskah dapat ditulis penulis pertama dkk (dan kawan-kawan)
Contoh: Menurut Sonis, Fazio dan Fang (1991) .............. (3 penulis)
                 Dapat ditulis menurut Sonis dkk, 1995 ...............
Pada cara ini tidak diberikan nomor pada daftar kepustakaan.

2. Cara (Sistem) Kombinasi Abjad dan Nomor

(Alphabet-number system, number system with references alphabetized) Pada cara ini kutipan kepustakaan dalam naskah diberi nomor sesuai dengan nomor pada daftar kepustakaan yang disusun secara abjad.

3. Sistem Nomor (Citation Number System)

Disini setiap kutipan dalam naskah diberi nomor secara berurutan dan susunan daftar kepustakaan juga mengikuti urutan seperti tercantum dalam naskah dan tidak secara abjad. Nama semua penulis di tulis untuk jumlah penulis sampai dengan 6; bila jumlahnya lebih dari 6 maka hanya 3 penulis pertama yang ditulis diikuti dengan kata dkk atau et.al.

A.3. Cara penulisan kepustakaan dalam daftar pustaka yang berasal dari berbagai sumber informasi

Informasi dapat diambil dari berbagai sumber yang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga kelompok dan beberapa sub-kelompok sebagai berikut:

1. Kelompok Buku Ajar (Textbook/Monografi)

1.1. Penulis perseorangan

a) Nama Penulis (disusun balik)
b) Tahun Terbit
c) Judul buku (dicetak miring atau garis bawahi)
d) Edisi dan volume
e) Nama Penerbit
f) Tempat Terbit (cukup satu, kota tempat buku diterbitkan)
g) Halaman yang dibaca

Contoh:
Stones, H.H. 1962. Oral and Dental Diseases. Ed. ke-4. Livingstone. Edinburgh. Hlm. 47-52.
Burket, L.W. 1971. Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. Ed. ke-6. JB. Lippincott. Philadelphia. Hlm. 55-59 dan 201.

1.2. Kumpulan karangan beberapa penulis dengan satu/beberapa editor

a) Nama Penulis
b) Tahun Terbit
c) Judul karangan/bab diikuti kata "dalam" atau "in"
d) Judul buku (dicetak miring atau garis bawahi)
e) Nama Editor
f) Edisi
g) Nama Penerbit
h) Tempat terbit
i) Halaman yang dibaca

Contoh:
Burket, L.W. 1977. White Lesions. Dalam. Burket's Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. Malcolm A Lynch (editor). Ed. ke-7. JB. Lippincott. Philadelphia. Hlm. 49-55.

Buku yang diikarang oleh lembaga

1.3. Buku yang dikarang oleh lembaga

a) Nama Lembaga
b) Tahun terbit
c) Judul buku (dicetak miring atau digarisbawahi)
d) Edisi dan volume
e) Nama penerbit
f) Tempat terbit (cukup satu)
g) Halaman yang dibaca

Contoh:
US General Accounting Office. 1989. AIDS forecasting: undercount of cases and lack of key data weaken existing estimates. US General Accounting Office. Washington DC.
WHO (World Health Organization). 1973. Expert commite on rabies 6th report. WHO Technical Report Series No. 523. WHO. Geneva.

1.4. Buku Terjemahan

a) Nama penulis
b) Tahun terbit
c) Judul buku (dicetak miring atau digarisbawahi)
d) Penerjemah
e) Nama penerbit
f) Tempat terbit
g) Halaman yang dibaca

Contoh:
Van Nieuw Amerongen. 1988. Ludah dan Kelenjar Ludah, Arti bagi kesehatan gigi. Penerjemah: Abyono R dan Suryo S. Gadjah-Mada University Press. Jogyakarta. Hal. 184.
Guyton, A.C. 1976. Buku Teks Fisiologi kedokteran. Penerjemah: Adji D. dan P. Lukmanto. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Hal. 101-120.

2. Kelompok Majalah (Jurnal)

2.1. Artikel yang ditulis penulis:

a) Nama Penulis
b) Tahun penerbitan
c) Judul artikel
d) Nama majalah, bila disingkat pakailah singkatan resmi. Nama majalah dicetak miring atau digarisbawahi.
e) Volume majalah diikuti tanda ":"
f) Halaman yang dibaca

Contoh:
Maxymiw, W.G. dan Wood, R.E. 1989. The Role of dentistry in patients undergoing bone marrow transplanation. British Dental Journal. 7:229-234.
Fardal, S. dan Turnbull, R.S. 1986. Review of the literature on use of chlorhexidine in dentistry. J Am Dent Assoc 112:863-869.

2.2. Artikel yang ditulis badan/lembaga

Cara menulisnya sama seperti diatas hanya nama penulis diganti dengan nama lembaga.

Contoh: WHO (World Health Organization) 1978. Definition of leukoplakia and related lesions: an aid to studies on precancer. Oral Surg Oral Med Oral Pathol 46:517-539.

2.3. Kelompok makalah yang telah dipresentasikan dalam seminar/simposia/kongres, tetapi tidak dipublikasikan

a) Nama penulis
b) Tahun penyajian
c) Nama forum
d) Nama forum penyajian (dicetak miring atau digarisbawahi)
e) kota
f) Bulan dan tanggal penyajian

Contoh:
Smith, J. 1975. New Agents for Cancer Chemotherapy. 3rd. Annual Meeting of the American Cancer Society. New York. June 3-4.
Jones, H.H. 1993. Recurrent Oral Ulceration. Seminar Sehari Hubungan Desain Geligi Tiruan Lepasan dengan Kondisi Mulut dan Lesi Ulseratif akibat Kelainan Sistematik. Jakarta. Mei 11.

B. Catatan Kaki

(Widjono, 2007:76) Catatan kaki adalah keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman karangan yang bersangkutan (Gorys Keraf, 1994:193). Catatan kaki dapat berupa rujukan bahan penulisan yang dijadikan sumber dan dapat pula berupa keterangan tambahan.

B.1. Penempatan Catatan Kaki

1) Catatan kaki dan uraian pada halaman yang sama pada bagian bawah digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi, buku, atau karangan ilmiah formal lainnya.
2) Catatan kaki pada akhir bab digunakan untuk karangan populer.
3) Catatan kaki pada akhir karangan digunakan untuk karangan yang berbentuk artikel untuk surat kabar, jurnal, majalah, laporan yang tidak menggunakan pembagian bab, atau esai dalam buku kumpulan esai.

Penempatan catatan kaki harus konsisten. Misalnya, penempatan catatan kaki pada kaki halaman pertama. Penempatan ini dilakukan seterusnya dengan cara yang sama sampai dengan halaman terakhir. Jika menggunakan cara penempatan pada kaki bab, cara yang sama harus dilakukan sampaii dengan akhir seluruh bab.

B.2. Penulisan Catatan Kaki

1) Catatan kaki dipisahkan tiga spasi dari naskah yang sama.
2) Antarcatatan kaki dipisahkan dengan satu spasi.
3) Catatan kaki lebih dari dua baris diketik dengan satu spasi.
4) Catatan kaki diketik sejajar dengan margin.
5) Catatan kaki jenis karangan ilmiah formal, diberi nomor urut mulai dari nomor satu untuk catatan kaki pertama pada awal bab berlanjut sampai dengan akhir bab. Pada setiap awal bab baru berikutnya catatan kaki dimulai dari nomor satu. Laporan atau karangan tanpa bab, catatan kaki ditulis pada akhir karangan.
6) Nomor urut angka arab dan tidak diberi tanda apa pun.
7) Nomor urut ditulis lebih kecil dari huruf lainnya, misalnya font 10.

Catatan kaki yang merupakan rujukan atau data pustaka ditulis berdasarkan cara berikut ini:
1) Nama pengarang tanpa dibalik urutannya atau sama dengan nama pengarang yang tertulis pada buku diikuti koma.
2) Jika nama dalam tertulis lengkap disertai gelar akademis, catatan kaki mencantumkan gelar tersebut.
3) Judul karangan dicetak miring, tidak diikuti koma.
4) Nama penerbit dan angka tahun diapit tanda kurung diikuti koma.
5) Nomor halaman dapat disingkat hlm atau h. Angka nomor halaman diakhiri titik (.).

Contoh penulisan:
1William N. Dunn, Analisis Kebijaksanaan Publik, terj. Mujahir Darwin, (Yogyakarta: Hanindita, 2001), 20-32.
2Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2, terj. Nurul Imam, (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), 1-40.
3Dr. Albert Wijaya, "Pembangunan Pemukiman bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Kota," dalam Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc.(Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung: Alumni, 1992), 121-124.
4Drs. Cosmas Batubara, "Kebijaksanaan Pembangunan Nasional: Sebuah Sumbang Saran," dalam Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc.(Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung: Alumni,1992), 91-103.

B.3. Referensi Buku, Jurnal, Majalah, dan Surat Kabar

B.3.1. Satu Pengarang

Cara Penulisan:
1) Nama pengarang ditulis sesuai dengan nama pengaranag pada buku.
2) Setelah nama pengarang diberi tanda koma.
3) Judul buku dicetak miring.
4) Setelah judul buku diikuti informasi buku, subjudul, jilid, edisi; tidak diikuti koma atau titik.
5) Informasi penerbitan diapit tanda kurung dengan urutan nama kota, penerbit, dan tahun.
6) Stetlah kurung tutup, diberi koma.
7) Dapat diikuti kata halaman (disingkat hlm atau h, dapat juga tanpa kata halaman), nomor halaman angka arab, dan diakhiri dengan titik.

Contoh:
1Prof. Dr. Gorys Keraf, Komposisi, (Flores: Nusa Indah, 1994), 63-70.
2M. Ramelan, Paragraf, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), 41-64.
3Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 1984), 1-20.

B.3.2. Dua Pengarang

1) Kedua pengarang ditulis sesuai dengan nama pengarang di buku, dan diikuti koma.
2) Judul buku dicetak miring.
3) Judul buku yang diikuti informasi (subjudul, jilid, edisi); tidak disisipi koma atau titik.
4) Informasi penerbitan diapit tanda kurung dengan urutan nama kota, penerbit, dan tahun, setelah kurung tutup, diberi koma.
5) Dapat diikuti kata halaman (disingkat hlm atau h) dapat juga tanpa kata halaman, nomor halaman angka arab, dan diakhiri dengan titik.

Contoh:
1E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademika Presindo, 1996), 121-140.
2Bobby DePorter & Mike Hernacki, Quantum Business, terj. Basyarah Nasution, (Bandung: Kaifa, 2000), 63-87.
3Farid Elashmawi and Philip R. Harris, Multicultural Management, terj. John Tondowidjojo, (Jakarta: Gramedia, 1999), 10-11.

B.3.3. Tiga Pengarang

Cara Penulisan:
1) Ketiga nama pengarang ditulis seluruhnya.
2) Tidak menggunakan singkatan et.al. atau dkk. (dan kawan kawan).
3) Setelah nama pengarang diberi tanda koma.
4) Judul buku dicetak miring.
5) Antara judul buku dan informasi buku (subjudul, jilid, edisi, dan lain-lain) tidak disisipi koma atau titik.
6) Informasi penerbitan diapit tanda kurung dengan urutan nama kota, penerbit, dan tahun. Setelah kurung tutup, diberi koma, dapat diikuti kata halaman (disingkat hlm atau h, dapat juga tanpa kata halaman).
7) Nomor halaman ditulis dengan angka arab, dan diakhiri dengan titik.

Contoh:
1Gibson, Ivancevich, and Donelly, Organisasi Edisi ke-8, terj. Ir. Nunuk Adiarni MM, (Jakarta: Bina Aksara, 1997), 345-355.
2Agus Sujanto, Halem Lubis, dan Tufik Hadi, Psikologi Kepribadian (Jakarta: Penerbit Aksara Baru, 1982), 120.
3Sabarti Akhidah, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridan, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 1999), 41-77.
4Antonius Atosokhi S.Th.MM, Antonia Panca Yuni Wulandari S.Sos., dan Drs. Yohanes Babasari, Character Building II Relasi Dengan Sesama, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003), 27-51.
5Sears, David O., Jonathan L. Freedman, L. Anne Peplau, Psikologi Sosial Jilid 1 ed. 5tha.d. Michael Adrianto dan Savitri Soekrisno, S.H. (Jakarta: Erlangga, 1988), 21-50.

B.3.4. Lebih dari tiga pengarang

Cara penulisan:
1) Nama pengarang pertama diikuti singkatan dkk (dan kawan kawan) atau et.al. (et alli), boleh memilih singkatan et.al. atau singkatan bahasa indonesia dkk, tetapi harus konsisten, tidak berganti-ganti. Rujukan berbahasa asing, misalnya Inggris, gunakanlah et.al. Jika rujukan bersumber bahasa Indonesia gunakanlah dkk.
2) Antara nama dan singkatan pengarang tidak dibubuhi koma.
3) Nama pengarang diikuti tanda koma.
4) Judul buku dicetak miring diikuti koma.
5) Judul buku dan subjudul, jilid, atau edisi tidak dipisahkan koma atau titik.
6) Informasi penerbitan diapit tanda kurung dengan urutan nama kota, penerbit, dan tahun. Setelah kurung tutup, diberi koma, dapat diikuti kata halaman (disingkat hlm atau h, dapat juga tanpa kata halaman).
7) Nomor halaman ditulis dengan angka arab, dan diakhiri dengan titik.

Contoh:
1Arthur J. Keown et.al., Dasar-Dasar Manajemen Keunangan, Buku 2,7th ed. terj. Chaerul D. Djakman, S.E., MBA, dan Dwi Sulistyorini, S.E., M.M., (Jakarta: Salemba Empat, 2000), 456-458.
2Canfield, Jack, Mark Victor Hansen, Jannifer Read Hawthorne, Marci Shimoff, Chicken Soup for the Women's Soul, terj. Anton MGS, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 100.

B.3.5. Instutisi sebagai Penulis

Contoh:
1Biro Pusat Statistik, Proyeksi Angkatan Kerja Indonesia Sampai Tahun 2000 (Jakarta: BPS,1982), 1.
2Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2004), 1-3.

B.3.6. Terjemahan

1James C. Vann Horne, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, a.b. Junius Titrok MBA (Jakarta: Erlangga, 1983), h. 100.
2Arthur J. Koewn et.al., Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Buku 2,7th ed. terj. Chaerul D. Djakman, S.E., MBA, dan Dwi Silistyorini, S.E., M.M., (Jakarta: Salemba Empat, 2000), 456-458.
3Canfield, Jack, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthrone, Marci Shimoff, Chicken Soup for the Women's Soul, terj. Anton MGS, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 100.

B.3.7. Artikel dalam Jurnal, Majalah, dan Surat Kabar

a. Susunan artikel dalam jurnal
1) Nomor urut pengarang dengan huruf kecil menggantung, rapat dengan garis margin kiri diikuti nama pengarang, koma.
2) Judul artikel diapit tanda petik diikuti koma.
3) Nama jurnal dicetak miring diikuti koma.
4) Nomor voluume diikuti titik dua (:) diikuti nomor halaman, diikuti koma.
5) Bulan dan tahun penerbitan diapit kurung dan diikuti koma, diikuti nomor halaman dan ditutup dengan titik.

Contoh:
1Bagus Sumargo, "Validalitas dan Reabilitas Pengukuran Kemiskinan", Jurnal Ilmiah Mat Stat, 2:2, (Jakarta, Juli 2002), 137 et.seq.
2Syamsul Arifin, "Konflik dan Harmonitas Sosial dalam Relasi dengan Sesama", Jurnal Character Building, 1:1, (Jakarta, Juli 2004), 21-33.
3Nur Hidayat, "Analisis Perbandingan Laporan Keuangan Fiskal vs Laporan Keuangan Fiskal vs Laporan Keuangan Komersial", Jurnal Perpajakan Indonesia, 1:10 (Jakarta, Mei 2002), 32-39.

b. Majalah
Urutan unsur yang dituliskan: nomor urut catatan kaki, nama pengarang, judul artikel (diapit tanda petik), nama majalah (dicetak miring), nomor dan tanggal penerbitan, dan halaman.

Contoh:
1Dedi Humaedi, "Kiat Perusahaan untuk Hidup Terus", Swa Sembada, 16/XX/5-18 Agustus 2004, h. 107-109.

c. Surat Kabar
Urutan unsur yang dituliskan: nama pengarang (kalau tidak ada nama tuliskan halaman pembahasan, misalnya: opini, tajuk, tifa), judul artikel (diapit tanda petik), nama surat kabar (di cetak miring), dan tanggal dan tempat penerbitan.

Contoh:
1Usep Setiawan, "Pemerintah Baru dan Konflik Agraria", Kompas 24 September 2004, 4-5.
2Putut Ea, "Rumah Hujan", Media Indonesia 20 Juni 2004, 13.


Sumber:
Haryanto, A.G., H. Ruslijanto, D. Mulyono. 2000. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Penebit Buku Kedokteran, Jakarta.
Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia. Jakarta:Grasindo. Selengkapnya ...

Kutipan

A. Pengertian Kutipan

(Widjono,2007:72) Kutipan adalah salinan kalimat, paragraf, atau pendapat dari seorang pengarang atau ucapan orang terkenal karena keahliannya, baik yang terdapat dalam buku, jurnal, baik yang melalui media cetak maupun elektronik. Kutipan ditulis untuk menegaskan isi uraian, memperkuat pembuktian, dan kejujuran menggunakan sumber penulisan.

Skripsi, thesis, disterasi, dan makalah ilmiah lebih dari 10 halaman sebaiknya menggunakan catatan kaki.

B. Prinsip-prinsip Mengutip

Dalam membuat tulisan kita pasti sering mengambil atau mengutip dari tulisan orang lain, maka dari itu perlu kita tahu bagaimana prinsip-prinsip yang benar dalam mengutip dari tulisan orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Apabila dalam mengutip sebuah karya atau tulisan yang ada salah ejaan dari sumber kutipan kita, maka sebaiknya kita biarkan saja apa adanya seperti sumber yang kita ambil tersebut. Kita sebagai pengutip tidak diperbolehkan membenarkan kata ataupun kalimat yang salah dari sumber kutipan kita.

b. Dalam kutipan kita diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan syarat bahwa
penghilangan bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna atau arti yang terkandung dalam sumber kutipan kita.
Caranya yaitu:
> Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi.
> Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi sepanjang garis. (dari margin kiri sampai margin kanan).

C. Macam-macam Kutipan

Pada umumnya kutipan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
1. Kutipan langsung (direct quotation):
    Kutipan langsung ini dibedakan bagi menjadi dua yaitu :
    a. Kutipan langsung pendek (short direct quotation),
    b. Kutipan langsung panjang (long direct quotation).
2. Kutipan tidak langsung (indirect quotation atau paraphrase);
    Kutipan tidak langsung ini juga dibedakan menjadi dua yaitu:
    a. Kutipan tidak langsung pendek (short indirect quotation),
    b. Kutipan tidak langsung panjang (long indirect quotation)

C.1. Kutipan langsung

Kutipan langsung adalah kutipan yang dilakukan persis seprti sumber aslinya, kata-katayang digunakan sama seperti bahan aslinya.Kutipan langsung biasanya digunakan untuk hal-hal sebagai berikut :
a. Untuk mengutip rumus atau model matematika,
b. Untuk mengutip peraturan-peraturan hukum, surat keputusan, surat perintahanggaran rumah tangga, tabel statistik dan sebagainya.
c. Untuk mengutip peribahasa, puisi, karya drama, dan kata-kata mutiara.
d. Untuk mengutip beberapa definisi yang dinyatakan dalam kata-kata yang sudahpasti.
e. Untuk mengutip beberapa pemyataan ilmiah yang jika dinyatakan dalam bentuk lain dikhawatirkan akan kehilangan maknanya.

C.1.1 Kutipan langsung pendek

Kutipan langsung pendek adalah kutipan langsung yang panjangnya tidak melebihi tigabaris ketikan. Kutipan yang demikian cukup dimasukkan dalam teks dengan memberikantanda petik diantara bahan yang dikutip.

Contoh :
Dalam memperkirakan distribusi pendapatan usaha tani akan digunakan pendekatanakuntansi, yakni "menghitung distribusi pendapatan usaha tani di antara para penerimapendapatan dan di antara faktor-faktor produksi." 1)

1)  C.G. Ranade and R.W. Herdt,"Shares of Farm Eamings from Rice Production, "ii Economic Consequences of the New Rice Technology (Los Banos, Philipgines:International Rice Research Institute, 197 8),p. 8 8.

C.1.2 Kutipan langsung panjang

Kutipan langsung panjang adalah kutipan langsung yang panjangnya melebihi tiga barisketikan. Kutipan semacam ini tidak dimasukkan dalam teks. Kutipan tersebut diberi tempattersendiri, dalam alinea baru yang berdiri sendiri. Kutipan langsung panjang ini diketik dengan satu spasi. Lebar jorokan ke dalam dari kalimat pertama adalah tujuh ketukan huruf dari garis tepi yang baru. Sedangkan baris kedua, ketiga dan seterusnya dimulai sesudahempat ketukan huruf dari garis tepi kiri. Bahan kutipan langsung panjang tidak ditulis diantara tanda petik.

Contoh:
Dalam memperhitungkan "farm family income" dibedakan bruto dan neto.Gross farm family-income (GFFI) is defined as income received by the farm operator and iscalculated as the residual after making actual payment for all expenditures incurred forproduction inputs, exduding any unpaid return to family-owned resources (land, labour, or capital). The net farm family income (NFFI) is calculated substracting depreciation from GFFI 2)

2) R. W Herdt,"costs and Returns for Rice Production," in Economic Consequences of the New Rice Technology (Los Banos: International Rices ResearchInstitute,1978),PP.64-65.

Penempatan kutipan langsung panjang dalam skripsi disarankan tidak melebihisetengah halaman. Usahakanlah dan pilihlah kutipan langsung panjang yang cukup pendek. Apabila terpaksa terdapat kutipan langsung Panjang yang melebihisatu halaman diseyogyakan untuk dimasukkan dalam bagian lampiran.

C.2. Kutipan tidak langsung

Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang tidak persis sama seperti bahan aslinya.Kutipan ini merupakan suatu petikan. Pokok - pokok pikiran atau ringkasan kesimpulan yang disusun menurut jalan pikiran dan dinyatakan dalam Bahasa pengutip sendiri. Kutipan tidak langsung tidak dituliskan di antara tanda petik, melainkan langsung dimasukkan dalam kalimat atau alinea. Ketentuan ini berlaku baik untuk kutipan tidak langsung pendek maupun kutipan-kutipan tidak langsung panjang.

Kutipan tidak langsung pendek adalah kutipan tidak langsung yang terdiri dari satu alinea atau kurang. Apabila lebih dari satu alinea dianggap sebagai kutipan tidak langsung panjang. Beberapa petunjuk dalam membuat kutipan tidak langsung pendek:
a. Jangan memasukkan pendapat sendiri ke dalam kutipan tidak langsung. Satualinea sepenuhnya disediakan untuk kutipan tidak langsung.
b. Kutipan tidak langsung dalam alinea itu hanya berasal dari satu sumber.
c. Apabila suatu bahan yang diambil dari dua sumber atau lebih berisi pokok-pokok pikiran yang sama, maka pernyataan tersebut tidak perlu dicantumkan dalamalinea sendiri-sendiri dengan footnote masing-masing, tetapi cukup diparaphrasekan dalam satu alinea saja dan kemudian disebutkan sumbemya.

D. Teknik Penulisan Kutipan

D.1 Pada Kutipan Langsung

Kutipan langsung ditulis dengan diberi tanda petik ("....."), jika pendek (satu - lima baris) ditulis dobel spasi, terintegrasi dalam kalimat yang dibuat penulis.

Contoh 11:

Salah Satu dimensi kehidupan afektif emosional adalah kemampuan memberikan  perlindungan yang berlebihan, melainkan cinta dalam arti “… a relationship that nourishes us as we give, and enriches us as we spend, and permits ego and alter  ego to grow in mutual harmony” (Cole, 1953: 832).

Kutipan langsung panjang (lebih dari lima baris) ditulis pada tempat tersendiri dengan spasi tunggal, tidak diberi tanda petik (“.....”), dan penulisan pada baris pertama disesuaikan dengan jumlah ketukan pada penulisan alinea baru (5-7 ketukan) (Keraf, 1984:183)

Contoh 12:

R.C. Kwant berpendapat tentang hubungan antara kritik dan demokrasi sebagai berikut.

Demokrasi itu tidak mungkin kalau tanpa kritik. Tetapi rakyat itu tentu dihimpun oleh pemimpin. Bagaimana yang dipimpin itu dapat bisa memimpin diri sendiri? Itu bisa karena rakyat mengontrol orang-orang yang mereka pimpin, habislah demokrasinya. Pada hal kritik adalah sebagian integral daripada kontrol. Maka krisis termasuk dalam hakikat demokrasi (Kwant, 1995: 70).

D.2. Pada Kutipan Tidak Langsung

D.2.1. Parafrase (Paraphrasing)

Kutipan tidak langsung dapat dibagi menjadi dua jenis yakni parafrase (paraphrasing) dan pengikhtisaran (summarizing). Parafrase adalah teknik perujukan dengan mengambil gagasan utama (main idea) dari sumber yang dirujuk. Untuk menghindari penjiplakan atau plagiarisme, penulis harus memastikan bahwa struktur kalimat dan pilihan kata (diksi) yang digunakan dalam parafrase harus berbeda dengan pernyataan aslinya. Dalam setiap pernyataan yang merupakan hasil paraphrasing dari suatu sumber atau beberapa sumber tertentu, penulis perlu mencantumkan identitas sumber yang dirujuk.  Parafrase diperoleh penulis dengan mengambil inti/pokok pikirannya saja, redaksi kalimat dibuat sendiri oleh pengutip. Cara penulisannya adalah: kutipan disatukan (diintegrasikan) dengan kalimat penulis,  tidak diberi tanda  petik (“.....”).

Contoh:

Sejarah wacana keadilan gender (baca: feminisme) di Mesir sebenarnya telah bergema sejak awal abad XX. Ironisnya, wacana tersebut kelihatannya hanya berjalan di tempat. Perempuan Mesir pada umumnya, terutama di tingkat masyarakat bawah, masih mengalami ketidakadilan atau bahkan penindasan. Sejauh ini masih belum ada tanda-tanda yang memperlihatkan perubahan yang signifikan dalam relasi sosial antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Polarisasi ekstrim elemen sosial ke dalam dua kutub berdasarkan seks (jenis kelamin) masih terjadi. Meminjam istilah Simone de Beauvoir, perempuan masih diposisikan sebagai the second sex atau being for others (ada untuk orang lain) (Siswanti, 2003: 21).

Paragraf di atas dapat dibuat menjadi parafrase sebagai berikut:

Perempuan di Mesir hingga sekarang masih mengalami ketidakadilan gender bahkan penindasan meskipun wacana keadilan gender telah berkembang sejak satu abad terakhir. Relasi sosial laki-laki dan perempuan masih seperti dua kutub yang berjauhan. Perempuan masih dipandang sebagai makhluk kelas dua (the second sex) atau eksistensinya sekedar menjadi pelengkap bagi laki-laki (being for others) (Siswanti, 2003: 21).

Perhatikan contoh parafrase yang kurang benar dari kutipan di atas berikut ini:

Wacana keadilan gender   di Mesir telah bergema sejak awal abad XX. Sayangnya, wacana tersebut hanya berjalan di tempat sehingga perempuan Mesir masih mengalami ketidakadilan atau bahkan penindasan sampai sekarang. Polarisasi ekstrim elemen sosial ke dalam dua kutub berdasarkan seks (jenis kelamin) masih terjadi.  Perempuan masih diposisikan sebagai the second sex atau being for others (ada untuk orang lain) (Siswanti, 2003: 21).

D.2.2. Pengikhtisaran (Summarizing)

Adapun pengikhtisaran (summarizing) adalah teknik perujukan dengan menyarikan atau mengikhtisarkan (membuat ikhtisar) atas kutipan dari suatu sumber. Seperti halnya, parafrase, pernyataan-pernyataan yang gagasan utamanya diperoleh melalui summarizing perlu dilengkapi pula dengan identitas sumber yang dirujuk (nama penulis, tahun terbit, dan halaman. Sedikit berbeda dengan parafrase, summarizing merupakan bentuk ikhtisar yang lebih ringkas, padat, juga dengan menggunakan redaksi bahasa penulis sendiri. Summarizing bermanfaat sekali ketika penulis ingin mengambil esensi atau substansi semacam abstrak dari kutipan yang mungkin panjang, misalnya satu halaman atau lebih.

Contoh:

Karakteristik pluralitas Indonesia adalah kompleksitasnya di dalam hal etnik dan agama. Di Indonesia terdapat tidak hanya puluhan etnis, melainkan ratusan etnis dengan bahasa dan budayanya masing-masing yang satu dengan lainnya berbeda. Selain itu, berbagai etnik itu pada umumnya menganut agama masing-masing yang satu dengan lainnya berbeda, meskipun secara yuridis formal Indonesia menetapkan adanya agama-agama tertentu yang diakui negara yakni: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Dengan demikian semboyan Bhinneka Tunggal Ika terasa pas dengan kondisi bangsa Indonesia yang memang pluralistik.

Kemajemukan bangsa Indonesia ternyata sangat rentan terhadap tindak kekerasan akibat konflik sosial terutama antar-etnik dan antar-agama, di samping antar kelas dan antar-golongan, yang dalam pembinaan politik di Indonesia sering disebut dengan SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Kekerasan itu sejak lama telah muncul di beberapa daerah di Indonesia. Hanya saja selama ini kekerasan itu tidak besar atau membesar dan tidak merember ke daerah lain. Namun, ketika bangsa Indonesia dilanda krisis moneter/ ekonomi sejak akhir 1997 hingga kini setelah gerakan reformasi --yang dimotori para mahasiswa dan intelektual--berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, kekerasan itu menggejala di berbagai daerah. Sedikit saja ada gesekan, maka mudah sekali api perpecahan dan kerusuhan massal disertai tindak kekerasan kolektif (anarkisme) muncul. Akibatnya, rakyat yang tidak berdosa harus menderita karenanya. Kasus kerusuhan Jakarta (2005), Solo (1998), Bali (1999), Ambon, Maluku Utara (1999/ 2000; 2003/ 2004), Mataram (2000), massal disertai tindak kekerasan kolektif (anarkisme) muncul. Akibatnya, rakyat yang tidak berdosa harus menderita karenanya. Kasus kerusuhan Jakarta (2005), Solo (1998), Bali (1999), Ambon, Maluku Utara (1999/ 2000; 2003/ 2004), Mataram (2000), Kalimantan (2003) dan Poso (2003-2006) adalah contoh aktual. Sekaligus mengindikasikan betapa kekerasan sosial akhir-akhir ini begitu fenomenal melanda masyarakat kita, yang dulu dikenal religius dan berbudaya santun: halus budi bahasanya, berbudi pekerti luhur, dan ramah-tamah. Sayang sekali, karakteristik bangsa Indonesia yang bagus itu kini tinggal 'kenangan indah'.

Identitas "bangsa religius dan berbudaya santun" itu telah terkoyak dan ternodai oleh berbagai tindak kekerasan sosial di berbagai daerah. Semoga situasi di Ambon yang sudah cukup kondusif dapat terus berlangsung, setelah lama dilanda konflik antara komunitas Kristen dengan komunitas Islam. Namun, bukan tidak mungkin di dalamnya masih tersimpan bara yang dapat menyala sewaktu-waktu. Kondisi demikian tentu saja menimbulkan keresahan dan kegelisahan di kalangan masyarakat Indonesia yang sedang berjuang mengatasi kesulitan hidup akibat krisis ekonomi sejak 1997 dan mengatasi berbagai musibah di tanah air.

Kutipan orisinal dari sebuah sumber tersebut dapat dibuat ikhtisarnya (summarizing) menjadi sebagai berikut:

Pluralitas bangsa Indonesia baik dari segi etik, agama, bahasa, dan budayanya merupakan sebuah keniscayaan. Dengan kata lain multikulturalisme merupakan sebuah faktan yang tidak terbantahkan yang harus diterima oleh warga Negara Indonesia. Sayang sekali, akhir-akhir ini pluralitas atau multikulturalisme bangsa Indonesia itu telah terkoyak oleh berbagai konflik antar-etnis dan antar-agama yang disertai dengan tindak anarkis seperti terlihat pada konflik Solo (1980), Ambon, Maluku Utara (1999/ 2000; 2003/ 2004), Jakarta (2010), Kalimantan Barat (2003). Predikat “bangsa religius dan berbudaya santun“ pun kini perlu patut dipertanyakan.

Sumber:
Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia. Jakarta:Gramedia Widiasarana Indonesia.
http://girlycious09.wordpress.com/tag/teknik-mengutip/
http://www.scribd.com/doc/47562301/46/Macam-macam-Kutipan
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:PwuKin_UoYQJ:kopertis6.or.id/data/kelembagaan/Materi%2520Pelatihan%2520Buku%2520Ajar/Dr.%2520Ali%2520Imron%2520A.%2520M/TEK%2520KUTIP,%2520DAFT%2520PUSTAKA,%2520ETIKA%2520AKADEMIK-FT%2520UMS%25202012.rtf+&cd=15&hl=en&ct=clnk&gl=id Selengkapnya ...

Konvensi Naskah

(Widjono,2007:268) Konvensi Naskah adalah Penulisan naskah karangan ilmiah berdasarkan kebiasaan, aturan yang sudah lazim, dan sudah disepakati. Kelaziman dan kesepakatan ini cenderung menjadi aturan baku yang digunakan oleh para akademisi di perguruan tinggi. Namun, penulisan naskah ilmiah tidak sebatas pada kegiatan akademis di perguruan tinggi. Para profesional dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang bekerja di berbagai lembaga pemerintah dan swasta, yang sudah lazim atau berdasarkan konvensi.

Konvensi penulisan, pengorganisasian materi utama, pengorganisasian materi pelengkap, bahasa, dan kelengkapan penulisan lainnya.

Persyaratan formal menyangkut bagian-bagian pelengkap dan kebiasaan-kebiasaan (konvensi) yang harus diikuti dalam penulisan. Dari persyaratan formal ini, dapat dibedakan lagi karya yang dilakukan secara formal, semi formal, dan informal.

A. Naskah Formal

Naskah formal adalah suatu naskah yang memenuhi semua persyaratan yang dituntut.

Persyaratan formal (bentuk lahiriah) yang harus dipenuhi sebuah karya menyangkut tiga bagian utama, yaitu:
Bagian pelengkap pendahuluan
a. Isi karangan
b. Bagian pelengkap penutup
c. Bagian Pelengkap Pendahuluan

Bagian pelengkap pendahuluan atau disebut juga halaman-halaman pendahuluan sama sekali tidak menyangkut isi karangan. Tetapi bagian ini harus disiapkan sebagai bahan informasi bagi para pembaca dan sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu dalam bentuk yang kelihatan lebih menarik. Bagian pelengkap pendahuluan terdiri dari :

a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul)
b. Halaman Judul
c. Halaman Persembahan (kalau ada)
d. Halaman Pengesahan (kalau ada)
e. Kata Pengantar
f.  Daftar Isi
g. Daftar Gambar (kalau ada)
h. Daftar Tabel (kalau ada)

Bagian Isi Karangan

Bagian isi karangan sebenarnya merupakan inti dari karangan atau buku; atau secara singkat dapat dikatakan karangan atau buku itu sendiri. Bagian isi karangan terdiri dari :
a.    Pendahuluan
b.   Tubuh Karangan
c.    Kesimpulan

Bagian Pelengkap Penutup

Bagian pelengkap penutup juga merupakan syarat-syarat formal bagi suatu karangan ilmiah. Bagian pelengkap penutup terdiri dari B
a.   Daftar Pustaka (Bibliografi)
b.   Lampiran (Apendix)
c.   Indeks
d.   Riwayat Hidup Penulis

Contoh Naskah Formal:
Laporan hasil praktek kerja lapangan


B. Naskah Semi-Formal

Naskah semi-formal adalah naskah yang tidak memenuhi semua persyaratan yang dituntut oleh konvensi.

Contoh naskah semi formal:
Makalah hasil penelitian

C. Naskah Non Formal

Naskah informal yaitu naskah yang tidak memenuhi semua syarat yang dituntut oleh konvensi.

Contoh naskah non formal:
Naskah kemerdekaan

D. Perbedaan Naskah Formal, Naskah Semi-Formal, Naskah Non Formal

Selain naskah formal, terdapat juga naskah semi-formal dan non formal. Perbedaan ketiga jenis naskah tersebut terdapat pada sub babnya. Naskah formal yaitu suatu karya yang memenuhi syarat lahiriah yang dituntut oleh konvensi, sedangkan naskah semi-formal yaitu suatu karya yang tidak memenuhi semua persyaratan lahirian yang dituntut konvensi. Dan naskah non-formal yaitu bila bentuk sebuah karya atau karangan tidak memenuhi persyaratan formalnya. Jadi kesimpulannya sub-sub bab yang terdapat pada naskah formal ada tang tidak dipakai atau tidak digunakan oleh naskah semi-formal dan non-formal.

Sumber:
Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia. Jakarta:Gramedia Widiasarana Indonesia.
http://www.irmalt.com/2012/11/konvensi-naskah.html
http://dwitangeblogs.blogspot.com/2012/11/konvensi-naskah.html Selengkapnya ...